Pembeli Masa Kini lebih Pilih Belanja Omnichannel

Uncategorized149 Dilihat

Kantar dalam laporannya mengatakan keberadaan saluran online dan offline dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Masing-masing dari mereka menyediakan kenyamanan berbelanja yang berbeda.

“Di sektor FMCG, 50% konsumen berbelanja di empat saluran, baik offline maupun online. Hal ini mengindikasikan tren omnichannel akan terus berkembang, terutama seiring meningkatnya akses internet di berbagai daerah,” kata Helmy Herman, Regional Account Director, Worldpanel Division, Kantar Asia dalam acara Omnichannel Trends: Meeting the Modern Shopper’s Preferences yang diselenggarakan GDP Venture (24/10/2023).

Keselarasan preferensi konsumen, kata dia, perlu menjadi fokus pelaku usaha agar bisa memberikan pengalaman belanja lewat berbagai macam saluran. Di sisi pemerintah, Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM Indonesia mengatakan keragaman produk UMKM semakin diakui dan diapresiasi masyarakat. Pemerintah, ujarnya, konsisten mengalokasikan 40 persen dari anggaran untuk belanja produk lokal.

“Upaya perlindungan UMKM juga terwujud melalui peraturan yang jelas, mencakup aspek teknologi, platform, dan jenis distribusi. Melalui platform e-commerce resmi, UMKM dapat menjangkau konsumen lebih luas, meningkatkan popularitas produk, dan membuka peluang baru,” kata dia. Menurutnya, kombinasi saluran offline-online dan kualitas produk lokal bisa meningkatkan pendapatan UMKM secara signifikan.

Helmy menambahkan tren omnichannel di masa depan akan didukung oleh beberapa faktor kunci. Pertama, peningkatan penggunaan internet di daerah pedesaan, didukung oleh infrastruktur pemerintah yang semakin berkembang. Kedua, penyebaran luas pembayaran berbasis mobile yang memudahkan konsumen dalam berbelanja. 

Ketiga, perkembangan pesat produk lokal, yang sering memulai eksistensinya secara online sebelum membuka toko offline. Keempat, pengalaman berbelanja menjadi semakin penting baik di kanal online maupun offline, mengingat keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda. Terakhir, dorongan dari Gen-Z yang menjadi pendorong utama berkembangnya omnichannel.

Baca Juga  Dengan Restrukturisasi, WIKA Targetkan Penurunan Biaya Usaha 25% 

“Generasi ini memiliki keahlian digital namun tetap menghargai pengalaman berbelanja offline untuk konten yang mereka hasilkan. Semua faktor ini bersama-sama membentuk pendorong utama bagi pertumbuhan omnichannel di masa mendatang,” ungkap Helmy. 

Sementara itu, Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma menjelaskan tren yang sama juga berlaku di industri furnitur, dimana konsumen tetap membutuhkan kepercayaan untuk menentukan produknya. Dimas memaparkan pihaknya menerapkan strategi omnichannel untuk memperluas penjualan sebagai respons terhadap permintaan konsumen yang menginginkan pengalaman langsung dalam melihat dan merasakan produk furnitur sebelum melakukan pembelian. 

“Karena untuk kualitas, material dan kenyamanan sangat sulit sekali didapatkan dari online saja,” ujarnya. Untuk mengembangkan bisnis di luar kota besar, menurutnya, saluran offline tetap krusial karena penetrasi online dan e-commerce masih belum sekuat di daerah-daerah tersebut.

Platform online, kata Dimas, memberikan inspirasi melalui berbagai gambar sehingga pelanggan dapat merujuk pada referensi. Kemudian, pada tahap akhir (below the line), pelanggan dapat mengunjungi Dekoruma Experience Center untuk melihat langsung sampel produk-produk. “Di saluran online, kami memberikan rekomendasi produk non-furnitur, seperti aksesoris, sesuai dengan preferensi pelanggan setelah mereka melakukan pembelian furnitur. Oleh karena itu, baik saluran online maupun offline memiliki peran yang signifikan dalam rangkaian pengalaman berbelanja,” kata Dimas menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *