Potret Guru di Aceh Utara Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka

Berita244 Dilihat

Losergeek.org.CO, Jakarta –  Kurikulum Merdeka sudah diterapkan di berbagai sekolah di Aceh Utara. Wilayah ini menjadi yang paling banyak menerapkan Kurikulum Merdeka se-Aceh. Ada kisah menarik dari berbagai guru yang sekolahnya telah menerapkan kurikulum ini.

Cerita itu terekam saat Direktorat Jenderal Guru dan dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melakukan kunjungan di SMPN 1 Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara pada 15 Agustus lalu. 

Maisurah, Guru Penggerak dari SDN 1 Syamtalira Bayu, menceritakan pengalamannya saat mengajar. Ketika sedang belajar Bahasa Indonesia misalnya, ia mengajak siswa untuk ke luar kelas sambil melihat alam sekitar. Hal itu biasa dia lakukan untuk mencari inspirasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

“Aktivitas tersebut disenangi anak-anak karena mereka merasakan pengalaman baru dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.

Selain itu, di dalam kelas Maisurah juga menerapkan pola belajar perkelompok. Cara ini terbukti efektif memancing potensi siswa. Jika pada pembelajaran sebelumnya siswa cenderung pasif berbicara maka dengan pembelajaran kelompok guru Maisurah mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Dengan cara ini pula, guru lebih mengenal karakteristik siswa. 

“Saya mendorong anak-anak untuk berani bicara dulu di depan umum, dimulai dengan berbicara di depan teman-temannya,” tuturnya yang tak jarang menemukan inspirasi pembelajaran dari peserta didik. 

Maisurah juga menceritakan pemetaan potensi peserta didik yang ia lakukan. Pertama, ia bertanya kepada guru di kelas sebelumnya. Kemudian, pada masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) lebih banyak diisi dengan kegiatan yang mendekatkan guru dengan siswa supaya terbangun rasa nyaman dan saling percaya.

Berbagai metode ice breaking seperti mengajak anak menyanyi, membuat yel-yel, dan lain-lain, dipraktikkan bersama peserta didik di kelas. Ia juga menerapkan tes sederhana untuk memetakan kompetensi dasar anak-anak di bidang literasi dan numerasi. 

Baca Juga  Profil Kim Jae Won, Pramugara Green Flag dalam Drama King The Land

Jika ada peserta didik yang kurang menguasai materi pelajaran, Maisurah memberikan penanganan khusus.

“Saya kelompokkan mereka ke dalam kelompok kecil, saya berikan materi pelajaran dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah dibanding anak-anak lain sambil dievaluasi secara berkala. Bahkan, kalau memungkinkan saya berikan jam tambahan pelajaran hingga remedial,” jelas Maisurah. 

Iklan

Praktik baik implementasi Kurikulum Merdeka juga disampaikan oleh Kepala SMPN 1 Syamtalira Bayu, Yusmadi. Ia menceritakan, terkait pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada siswa yaitu dengan menempatkan siswa yang kurang menguasai literasi dalam ruang kelas khusus.

Ruang kelas literasi disediakan sekolah yang berisi sekitar 20 orang peserta didik dengan satu guru. Di dalamnya, juga diajarkan materi pelajaran lain yang menjadi target pembelajaran pada jenjang tersebut. 

“Ini memacu sekolah untuk terus berinovasi dalam pembelajaran. Seperti saat kami membuat ruang kelas literasi. Anak-anak kami evaluasi kemampuannya secara berkala, jika sudah bisa memenuhi target capaian literasi, akan kami kembalikan ke kelas umum,” tuturnya. 

Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan bagi guru dan peserta didik untuk merefleksikan proses pembelajaran yang sudah berlangsung guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Wujud aktivitas refleksi yang menarik dicontohkan oleh Mainita, Guru Penggerak SDN 5 Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. 

Pelatihan yang ia terima dalam program Guru Penggerak angkatan ke-7 selama enam bulan telah memberi inspirasi dalam menerapkan model ajarnya. “Di sesi akhir kelas saya bertanya kepada anak-anak tentang perasaan mereka setelah menjalani pembelajaran dengan menggunakan perangkat yang diberi nama papan emoji. Ada berbagai macam emoji yang bisa dipilih anak-anak mulai dari perasaan senang, sedih, bingung, dan lain-lain,” ucapnya. 

Peserta didik menuliskan nama mereka masing-masing kemudian menempelkan nama tersebut di papan emoji untuk mewakili perasaan mereka. Jika ada anak yang merasa tidak senang dengan model pembelajaran, Mainita akan bertanya kesulitan apa yang dirasakan peserta didik untuk memahami materi. Tak jarang, dari situ muncul beragam solusi belajar yang tidak hanya berasal dari guru, melainkan juga dari sesama siswa. 

Baca Juga  Ribuan Simpatisan Banteng Geruduk Markas PDIP Bali, Apa Masalahnya?

Salah satu siswa kelas 6, SDN 1 Syamtalira Bayu yang bernama Siti Khairah Maisura menceritakan pengalamannya belajar dengan menggunakan Kurikulum Merdeka. Ia mengaku senang ketika belajar di luar kelas. “Belajar dengan praktik langsung membuat saya lebih memahami materi dan suasana belajar menjadi tidak membosankan,” ujar anak perempuan yang bercita-cita menjadi koki ini. 

Shinta Magfirah, kawan satu kelas Siti juga mengungkapkan ketertarikannya belajar dengan Kurikulum Merdeka. “Saya lebih bersemangat ke sekolah karena banyak kegiatan belajar yang bisa saya lakukan bersama guru dan teman-teman,” ungkap siswi yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan juga bercita-cita menjadi koki ini.    

Pilihan Editor: Mengenal 3 Tokoh Pengibar Bendera Merah Putih Saat Proklamasi Kemerdekaan



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *